You are currently browsing the monthly archive for Maret, 2007.
Belum lama ini, saya melihat sebuah pertunjukan musik di sebuah televisi swasta. Bagi saya pertunjukan musik ini kurang biasa. Sebuah pertunjukan musik yang menampilkan beberapa macam aliran musik dan beberapa band. Ada yang dari label mayor, ada juga yang dari label independent. Tidak seperti yang sudah-sudah, ketika televisi hanya menampilkan band-band dari label mayor saja, tetapi ini juga berasal dari indie label. Dan mungkin untuk masyarakat kita secara umum, band-band yang berasal dari label independent belum cukup dikenal. Yah seperti itulah industri musik, atau musik industri? Tetapi pada kenyataanya group band yang berasal dari indie label juga mempunyai “masa” yang cukup banyak lho. Pertunjukan malam itu begitu meriah. Penonton/masa dari band yang didominasi oleh anak muda, berdisko,berjoget dan menari dengan girang, atraktif dengan dandanan serta aksesoris yang menarik.(meski jenis musik yang dimainkan beberapa band berbeda, tetapi penonton tetap menikmati jalannya pertunjukan dengan gembira).
….Sekelumit cerita pendek untuk mengawali cerita panjang saya kali ini.
Perkembangan kebudayaan di Indonesia saat ini sepertinya melukiskan grafik yang cukup menarik. Pengaruh budaya dari luar yang masuk ke Negara kita bisa dikatakan sangat besar. Baik itu dari musik, pendidikan, pola hidup, atau sampai kepada hal yang paling sepele,”gaya bicara”.Tetapi sepertinya kurang diimbangi dengan kemampuan selektifitas bangsa ini. Yaah, contoh kecil adalah cerita saya tadi, jika group band tersebut menjadi faforit, maka semua yang ada pada diri mereka akan diikuti oleh fans mereka. Model rambut, pakaian,kebiasaan hidup dan yang lainnya. Memang, tidak ada hak untuk melarang para fans untuk melakukan semua hal itu. Tetapi kita juga harus melihat kedalam, kita juga punya identitas budaya yang harus tetap dipertahankan. Ataukah ini hanya menjadi sebuah trend? Jika hanya sebuah trend, seperti apa gaya anak muda tahun 2015. Pasti beda donk!
Tidak bisa tidak, sebuah budaya dan pola kehidupan masyarakat pasti akan bergeser seiring dengan berjalannya waktu. Tetapi bukan berarti kehilangan identitas, mungkin itu intinya. Tinggal kita yang menetukan akan dibawa kemana dan seperti apa budaya kita ini.
Bangsa kita memang mempunyai sifat khas yang sulit hilang. Yaitu budaya meniru. Banyak yang menyebutnya “latah”. Walaupun itu adalah hal yang wajar pada sebuah tatanan kehidupan manusia. Seperti ilustrasi diatas, meskipun jenis musik berbeda, penonton tetap menikmati dan berjoget serta berdandan( kebetulan dandanan ini mulai booming pada kaum muda negara ini) yang hanya di miliki secara khas oleh jenis musik tertentu saja, yang pada pertunjukan musik itu hanya satu band yang mengusung genre musik tersebut.
Jadi bangsa kita ini sebenarnya mempunyai sifat budaya latah atau latah budaya? Jika latah budaya mungkin bisa hilang dengan berjalannya waktu, tetapi jika latah menjadi sebuah budaya……..?
words by self
MEMUSEUMKAN MUSEUM
Suatu kali, saya pergi ke sebuah museum wayang diyogyakarta. Museum wayang , didalam museum tersebut terdapat berbagai macam koleksi wayang yang cukup lengkap. Hampir semua jenis wayang dari Indonesia yang mewakili periode zamannya dan juga dari Negara lain terpajang di museum ini. Museum wayang , sebuah dokumentasi proses perkembangan kebudayaan dan teknologi di Indonesia.
Hari itu adalah hari senin dan kali pertama saya datang ke museum ini. Karena saya juga baru mengetahui ternyata di jogja juga ada museum wayang yang leataknya terpisah dari keraton. Maklumlah, tempat museum ini pun lumayan jauh, dipinggiran kota yogyakarta. Sebenarnya hari senin adalah hari libur untuk museum ini. Karena museum ini buka dari hari selasa-minggu. Tetapi beruntung, ada petugas museum yang mau membukanya untuk saya(padahal saya nggak minta lho). Disertai dengan alasan yang membuat saya kurang percaya. Uang kunjungan museum dan parkir bisa buat nambah uang makannya. Bisiknya dengan gerakan isyarat kepada salah seorang teman petugas.fffuih….sangat tragis ( mungkinkah pendapatan mereka sebagai petugas museum kurang mencukupi kebutuhan pokok mereka ?)
Memasuki lorong memanjang dengan balutan arsitektur jawa kuno dan eropa, saya dimanjakan dengan arsip-arsip dua dan tiga dimensi karya seniman – seniman negara ini. Dari zaman dahulu kala hingga zaman modern saat ini. Ya memang lengkap…………
Setelah selesai menikmati koleksi museum ini, otak saya malah diributkan oleh masalah-masalah baru yang timbul gara-gara museum ini.Mengapa museum (yang sebenarnya) sebagus ini, sangat sedikit mendapat perhatian dari masyarakat luas, terutama generasi muda. Kondisi museum sendiri sedikit memprihatinkan. Perawatan dan pemeliharaan bangunan serta koleksi wayang terlihat seadannya. Prosentase pengunjung yang datang ke museumpun sangat sedikit. Lain, jika kita melihat anak muda berada pada sebuah mall, dengan penuh semangat dan antusias menikmati display sebuah produk fashion atau lautan remaja pada sebuah pertunjukan musik. Fenomena yang cukup membuat saya mengernyitkan dua alis ini.
Sudah berapa banyak museum yang di “museumkan”, karena sepi pengunjung, kurang pendapatan atau program museum yang kurang kreatif. Menurut saya ada faktor yang substansial yang menjadikan perhatian masyarakat terhadap fungsi museum ini terabaikan, yaitu kurangnya minat masyarkat untuk mempelajari sejarah dan kekayaan budaya negeri sendiri.(itu disebabkan karena bosan,kuno, nggak gaul atau merasa tidak membutuhkan lagi terhadap kebudayaan, dalam hal ini wayang).
Mungkin 10-20 tahun lagi akan berdiri museum baru yang didalamnya menyimpan berbagai macam daftar jenis museum yang ada di Indonesia. Museum mengoleksi museum. Lambat laun pelan dan kemungkinan pasti bisa-bisa museum wayang ini juga akan dimuseumkan, dan yang lebih menyakitkan lagi yang menjadi stimulasi proses tersebut adalah bangsa kita sendiri.
Ini adalah pekerjaan yang cukup berat untuk museum wayang tersebut dan mungkin pemerintah untuk menanganinya.
Ditulis sebagai bentuk keresahan terhadap kesadaran masyarakat tentang kekayaan budaya bangsa sendiri.
words by self

komentar