MEMUSEUMKAN MUSEUM
Suatu kali, saya pergi ke sebuah museum wayang diyogyakarta. Museum wayang , didalam museum tersebut terdapat berbagai macam koleksi wayang yang cukup lengkap. Hampir semua jenis wayang dari Indonesia yang mewakili periode zamannya dan juga dari Negara lain terpajang di museum ini. Museum wayang , sebuah dokumentasi proses perkembangan kebudayaan dan teknologi di Indonesia.
Hari itu adalah hari senin dan kali pertama saya datang ke museum ini. Karena saya juga baru mengetahui ternyata di jogja juga ada museum wayang yang leataknya terpisah dari keraton. Maklumlah, tempat museum ini pun lumayan jauh, dipinggiran kota yogyakarta. Sebenarnya hari senin adalah hari libur untuk museum ini. Karena museum ini buka dari hari selasa-minggu. Tetapi beruntung, ada petugas museum yang mau membukanya untuk saya(padahal saya nggak minta lho). Disertai dengan alasan yang membuat saya kurang percaya. Uang kunjungan museum dan parkir bisa buat nambah uang makannya. Bisiknya dengan gerakan isyarat kepada salah seorang teman petugas.fffuih….sangat tragis ( mungkinkah pendapatan mereka sebagai petugas museum kurang mencukupi kebutuhan pokok mereka ?)
Memasuki lorong memanjang dengan balutan arsitektur jawa kuno dan eropa, saya dimanjakan dengan arsip-arsip dua dan tiga dimensi karya seniman – seniman negara ini. Dari zaman dahulu kala hingga zaman modern saat ini. Ya memang lengkap…………
Setelah selesai menikmati koleksi museum ini, otak saya malah diributkan oleh masalah-masalah baru yang timbul gara-gara museum ini.Mengapa museum (yang sebenarnya) sebagus ini, sangat sedikit mendapat perhatian dari masyarakat luas, terutama generasi muda. Kondisi museum sendiri sedikit memprihatinkan. Perawatan dan pemeliharaan bangunan serta koleksi wayang terlihat seadannya. Prosentase pengunjung yang datang ke museumpun sangat sedikit. Lain, jika kita melihat anak muda berada pada sebuah mall, dengan penuh semangat dan antusias menikmati display sebuah produk fashion atau lautan remaja pada sebuah pertunjukan musik. Fenomena yang cukup membuat saya mengernyitkan dua alis ini.
Sudah berapa banyak museum yang di “museumkan”, karena sepi pengunjung, kurang pendapatan atau program museum yang kurang kreatif. Menurut saya ada faktor yang substansial yang menjadikan perhatian masyarakat terhadap fungsi museum ini terabaikan, yaitu kurangnya minat masyarkat untuk mempelajari sejarah dan kekayaan budaya negeri sendiri.(itu disebabkan karena bosan,kuno, nggak gaul atau merasa tidak membutuhkan lagi terhadap kebudayaan, dalam hal ini wayang).
Mungkin 10-20 tahun lagi akan berdiri museum baru yang didalamnya menyimpan berbagai macam daftar jenis museum yang ada di Indonesia. Museum mengoleksi museum. Lambat laun pelan dan kemungkinan pasti bisa-bisa museum wayang ini juga akan dimuseumkan, dan yang lebih menyakitkan lagi yang menjadi stimulasi proses tersebut adalah bangsa kita sendiri.
Ini adalah pekerjaan yang cukup berat untuk museum wayang tersebut dan mungkin pemerintah untuk menanganinya.
Ditulis sebagai bentuk keresahan terhadap kesadaran masyarakat tentang kekayaan budaya bangsa sendiri.
words by self

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini