Retroisme

Apakah sebuah gaya hidup?

 

Saya pernah bertanya kepada seorang teman, “ehemmm, eh menurut kamu yang kamu pake dibadan kamu kaya baju, sepatu,tas aksesoris dan sebagainya itu berpengaruh dan berarti banget gak sih dalam kehidupan kamu?juga dengan hobi kamu…….”, lalu teman saya menjawab, “kalo menurut aku semua yang disebutkan kamu tadi gak harus donk berhubungan dengan pola hidup kita. Apa lagi life style, sepertinya gak ada hubungannya, ngalir aja”. Kemudian teman saya yang lain, anggap saja namanya si Fulan, juga saya beri per tanyaan yang sama. Dia menjawab,”wah itu tergantung sampai sejauh mana kita menyikapinya, coba sekarang lihat ke kamu, potongan rambutmu kayak gitu,sepatu kamu celana kamu,trus baju-baju kamu, kemungkinan besar orang yang melihat akan berpikir bahwa kamu pecinta gaya vintage. Atau seorang musisi misalkan. Padahal kehidupan kamu gak selalu begitu to? Terus si Anu yang seniman, ketika dia masih aktif kuliah dulu, penampilannya awut awutan sukanya pake pakaian yang sedikit kumal, jarang mandi, tetapi setelah dia hijrah kekota besar dan berkarya disana, dia bisa menyesuaikan diri diri dengan lingkungannya. Bahkan sekarang lebih sering tampil rapi layaknya seorang eksekutif muda. Jadi menurutku semua yang kita kenakan, hobi dan kebiasaan mungkin ada hubungannya dengan gaya hidup kita. Yaaa 50-50 lhaaaah”.

Kejadian barusan pernah saya alami, ketika hati saya gusar sehabis membeli sebuah majalah life style anak muda yang isinya lumayan memberikan wacanaa baru pada dunia gaya hidup anak muda Negara ini.

Yang membuat pikiran saya tidak tenang adalah maraknya kembali gaya hidup “Retroisme” dikalangan anak muda jaman sekarang yang notabenenya mereka adalah genre yang sangat dekat dengan teknologi modern. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh desainer fashion kenamaan Miuccia Prada, bahwa everything else has been done. Yaa intinya mode pakain dan mungkin gaya hidup itu seperti roda yang berputar (diambil dari kutipan Izabel Jahja pada majalah jeune edisi 17).

Seperti yang terjadi sekarang, coba aja kita keluar kejalan dan berjalan 2 kilometer aja atau kita main ke pusat perbelanjaan kita akan menemukan selusin wanita menggunakan pakain rok terusan bertali di pinggangnya dengan sepatu yang imut (itu adalah pakaian yang ngtren di Indonesia pada era 60-80an awal), kacamata yang hampir menutupi muka ,potongan rambut belah pinggir, hem berkrah lebar dengan warna yang sedikit berani bahkan sampai kendaraan, scooter, CB-200 atau mobil Morris yang sudah bututpu beramai-ramai direstorasi menjadi barang yang kempling lagi. Saya masih ingat ketika dulu waktu semester-semester awal saya kuliah, banyak teman teman yang menertawakan saya dan melihat heran ketika saya memakai kacamata yang memenuhi hampir separuh muka saya. “apa gak ada yang sekalian buat topeng?” itu dulu, tetapi sekarang? Seperti jamur yang tumbuh dimusim hujan dijual hampir semua tukang kacamata di inggir jalan. Padahal dulu nyarinya lumayan susah. Kalo gak gerilya di pasar klithikan (pasar barang – barang bekas) ya nyari ditempat-tempat orang yang jual barang barang berbau vintage.

Nah percaya atau tidak, apa yang kita pakai, trus yang menjadi hobi kita, sepertinya ada hubungan yang kuat dengan gaya hidup kita. (meskipun beberapa orang tidak menyetujui pendapat ini)

Dengan adanya gaya hidup jaman sekarang ini, yang sepertinya berputar menuju era dimana orang tua kita masih asyik pada pacaran, ini menunjukan bahwa atensi masyarakat terhadap mode cukup tinggi.(walaupun sebenarnya banyak juga yang ikut-ikutan biar gak dibilang katro)

Coba deeeh, perhatikan beberapa tahun kedepan, apakah masih banyak orang yang “mempercayai” retroisme sebagai gaya hidup mereka, part of life atau malah way of life,

Atau dengan cepat orang berpakaian necis dengan rambut rapi dibelah pinggir berubah menjadi mahluk bortopi miring celana gombrong dan memakai kalung rantai berjumlah tak terhingga sambil menyanyikan lagu eminem…….

 

Pics on Illustration

Beberapa waktu yang lalu penulis mendapat kesempatan untuk men”direct” sebuah sesi pemotretan pra-wedding. Kebetulan penulis mengambil konsep vintage, untuk foto dan materi publikasi pernikahan mereka. Secara kebetulan klien juga pecinta salah satu gaya hidup retro ini. Para “calon” pengantin, mereka adalah penggandrung barang barang yang bergaya vintage. Hobby calon “pengantin pria” yang gemar mengoleksi motor dan kendaraan tua, karena dia juga seorang Scoooter Boy, menginspirasi hal ini sebagai setting pemotretan.

1 2 3 4 6 7

Hasilnya jadilah sekumpulan foto-foto yang beraroma vintage. Bahkan untuk undangan dan souvenir pernikahanpun dibuat semua bergaya klasik. Satu hal lagi membutktikan bahwa hoby dapat mempengaruhi seseorang dalam memilih sebuah gaya hidup.

Tentunya akan lebih baik jika kecintaan terhadap “Retroisme”, juga diimbangi dengan modernitas teknologi saat ini. Dandanan boleh kuno tetapi tidak donk untuk pola pikir kita. Sepertinya asyik tuh melihat sebuah pendaurulangan sebuah gaya hidup yang juga diakulturasi dengan kebaruan budaya yang ada.

Wwueeeeh………capek ngomong terus….

Udah dulu yah kenapa saya nulis sebanyak ini, padahal materi Tugas Akhir saya banyak banget yang belu diselesaikan…….

!!!!!!!!!!

 

words by self