You are currently browsing the monthly archive for Juli, 2007.
Ada seorang teman berkata kepada saya ketika saya mengganti channel TV karena acaranya hanya sinetron percintaan anak smp. Sebenarnya kita harus mulai menyukai sinetron-sinetron karya anak negeri ini, meskipun keadaanya menyedihkan. Saya hanya melirik sinis kepadanya……..beberapa saat kemudian saya berkata kepadanya…..sudah saatnya juga bangsa Indonesia ini terbebas dari belenggu kebodohan sinetron-sinetron negeri ini jika materi yang di ceritakan hanya cerita yang memuakan dan tidak bermutu.
Itulah yang terjadi di negara kita ini, ketika sebuah keadaan ‘memaksa’ untuk menerima sebuah acara televisi yang bernama sinetron itu. Yang terjadi adalah ketika cerita yang disuguhkan oleh sinetron hanya berupa ‘pepesan kosong’, meskipun ada kemungkinan dari penulis cerita untuk menyisipkan pesan moral didalam tayangan tersebut. Pada kenyataanya sinetron hanya menjadi pelengkap acara TV semata, pagi,siang sore,malam bahkan tengah malam sekalipun, stasiun TV menayangkan sinetron yang hampir semua ceritanya mempunyai tingkat kemiripan yang cukup dekat. Remaja sekolah dengan kisah cintanya, keluarga kaya dengan perebutan harta dan selingkuh kepala keluarganya, atau kisah memilukan berbumbu agama yang sepertinya ‘hampa’. Sudah saatnya bangsa ini ikut memperbaiki semuanya, bukan hanya orang media, orang televisi, atau pemilik rumah produksi yang bertanggung jawab. Jika bukan kita, siapa lagi? Jika kita memang menganggap acara ini adalah’bodoh’, maka lebih bodoh lagi apabila kita menonton atau membiarkannya terus berkembang.
Jadi dari mana kita harus mulai………
Words by self
‘dalam sebuah keresahan ketika melihat anak kecil berkata cinta layaknya remaja, kepada lawan jenisnya pada sebuah sinetron’

komentar