Ada seorang teman berkata kepada saya ketika saya mengganti channel TV karena acaranya hanya sinetron percintaan anak smp. Sebenarnya kita harus mulai menyukai sinetron-sinetron karya anak negeri ini, meskipun keadaanya menyedihkan. Saya hanya melirik sinis kepadanya……..beberapa saat kemudian saya berkata kepadanya…..sudah saatnya juga bangsa Indonesia ini terbebas dari belenggu kebodohan sinetron-sinetron negeri ini jika materi yang di ceritakan hanya cerita yang memuakan dan tidak bermutu.

Itulah yang terjadi di negara kita ini, ketika sebuah keadaan ‘memaksa’ untuk menerima sebuah acara televisi yang bernama sinetron itu. Yang terjadi adalah ketika cerita yang disuguhkan oleh sinetron hanya berupa ‘pepesan kosong’, meskipun ada kemungkinan dari penulis cerita untuk menyisipkan pesan moral didalam tayangan tersebut. Pada kenyataanya sinetron hanya menjadi pelengkap acara TV semata, pagi,siang sore,malam bahkan tengah malam sekalipun, stasiun TV menayangkan sinetron yang hampir semua ceritanya mempunyai tingkat kemiripan yang cukup dekat. Remaja sekolah dengan kisah cintanya, keluarga kaya dengan perebutan harta dan selingkuh kepala keluarganya, atau kisah memilukan berbumbu agama yang sepertinya ‘hampa’. Sudah saatnya bangsa ini ikut memperbaiki semuanya, bukan hanya orang media, orang televisi, atau pemilik rumah produksi yang bertanggung jawab. Jika bukan kita, siapa lagi? Jika kita memang menganggap acara ini adalah’bodoh’, maka lebih bodoh lagi apabila kita menonton atau membiarkannya terus berkembang.

Jadi dari mana kita harus mulai………

Words by self

‘dalam sebuah keresahan ketika melihat anak kecil berkata cinta layaknya remaja, kepada lawan jenisnya pada sebuah sinetron’

 

Retroisme

Apakah sebuah gaya hidup?

 

Saya pernah bertanya kepada seorang teman, “ehemmm, eh menurut kamu yang kamu pake dibadan kamu kaya baju, sepatu,tas aksesoris dan sebagainya itu berpengaruh dan berarti banget gak sih dalam kehidupan kamu?juga dengan hobi kamu…….”, lalu teman saya menjawab, “kalo menurut aku semua yang disebutkan kamu tadi gak harus donk berhubungan dengan pola hidup kita. Apa lagi life style, sepertinya gak ada hubungannya, ngalir aja”. Kemudian teman saya yang lain, anggap saja namanya si Fulan, juga saya beri per tanyaan yang sama. Dia menjawab,”wah itu tergantung sampai sejauh mana kita menyikapinya, coba sekarang lihat ke kamu, potongan rambutmu kayak gitu,sepatu kamu celana kamu,trus baju-baju kamu, kemungkinan besar orang yang melihat akan berpikir bahwa kamu pecinta gaya vintage. Atau seorang musisi misalkan. Padahal kehidupan kamu gak selalu begitu to? Terus si Anu yang seniman, ketika dia masih aktif kuliah dulu, penampilannya awut awutan sukanya pake pakaian yang sedikit kumal, jarang mandi, tetapi setelah dia hijrah kekota besar dan berkarya disana, dia bisa menyesuaikan diri diri dengan lingkungannya. Bahkan sekarang lebih sering tampil rapi layaknya seorang eksekutif muda. Jadi menurutku semua yang kita kenakan, hobi dan kebiasaan mungkin ada hubungannya dengan gaya hidup kita. Yaaa 50-50 lhaaaah”.

Kejadian barusan pernah saya alami, ketika hati saya gusar sehabis membeli sebuah majalah life style anak muda yang isinya lumayan memberikan wacanaa baru pada dunia gaya hidup anak muda Negara ini.

Yang membuat pikiran saya tidak tenang adalah maraknya kembali gaya hidup “Retroisme” dikalangan anak muda jaman sekarang yang notabenenya mereka adalah genre yang sangat dekat dengan teknologi modern. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh desainer fashion kenamaan Miuccia Prada, bahwa everything else has been done. Yaa intinya mode pakain dan mungkin gaya hidup itu seperti roda yang berputar (diambil dari kutipan Izabel Jahja pada majalah jeune edisi 17).

Seperti yang terjadi sekarang, coba aja kita keluar kejalan dan berjalan 2 kilometer aja atau kita main ke pusat perbelanjaan kita akan menemukan selusin wanita menggunakan pakain rok terusan bertali di pinggangnya dengan sepatu yang imut (itu adalah pakaian yang ngtren di Indonesia pada era 60-80an awal), kacamata yang hampir menutupi muka ,potongan rambut belah pinggir, hem berkrah lebar dengan warna yang sedikit berani bahkan sampai kendaraan, scooter, CB-200 atau mobil Morris yang sudah bututpu beramai-ramai direstorasi menjadi barang yang kempling lagi. Saya masih ingat ketika dulu waktu semester-semester awal saya kuliah, banyak teman teman yang menertawakan saya dan melihat heran ketika saya memakai kacamata yang memenuhi hampir separuh muka saya. “apa gak ada yang sekalian buat topeng?” itu dulu, tetapi sekarang? Seperti jamur yang tumbuh dimusim hujan dijual hampir semua tukang kacamata di inggir jalan. Padahal dulu nyarinya lumayan susah. Kalo gak gerilya di pasar klithikan (pasar barang – barang bekas) ya nyari ditempat-tempat orang yang jual barang barang berbau vintage.

Nah percaya atau tidak, apa yang kita pakai, trus yang menjadi hobi kita, sepertinya ada hubungan yang kuat dengan gaya hidup kita. (meskipun beberapa orang tidak menyetujui pendapat ini)

Dengan adanya gaya hidup jaman sekarang ini, yang sepertinya berputar menuju era dimana orang tua kita masih asyik pada pacaran, ini menunjukan bahwa atensi masyarakat terhadap mode cukup tinggi.(walaupun sebenarnya banyak juga yang ikut-ikutan biar gak dibilang katro)

Coba deeeh, perhatikan beberapa tahun kedepan, apakah masih banyak orang yang “mempercayai” retroisme sebagai gaya hidup mereka, part of life atau malah way of life,

Atau dengan cepat orang berpakaian necis dengan rambut rapi dibelah pinggir berubah menjadi mahluk bortopi miring celana gombrong dan memakai kalung rantai berjumlah tak terhingga sambil menyanyikan lagu eminem…….

 

Pics on Illustration

Beberapa waktu yang lalu penulis mendapat kesempatan untuk men”direct” sebuah sesi pemotretan pra-wedding. Kebetulan penulis mengambil konsep vintage, untuk foto dan materi publikasi pernikahan mereka. Secara kebetulan klien juga pecinta salah satu gaya hidup retro ini. Para “calon” pengantin, mereka adalah penggandrung barang barang yang bergaya vintage. Hobby calon “pengantin pria” yang gemar mengoleksi motor dan kendaraan tua, karena dia juga seorang Scoooter Boy, menginspirasi hal ini sebagai setting pemotretan.

1 2 3 4 6 7

Hasilnya jadilah sekumpulan foto-foto yang beraroma vintage. Bahkan untuk undangan dan souvenir pernikahanpun dibuat semua bergaya klasik. Satu hal lagi membutktikan bahwa hoby dapat mempengaruhi seseorang dalam memilih sebuah gaya hidup.

Tentunya akan lebih baik jika kecintaan terhadap “Retroisme”, juga diimbangi dengan modernitas teknologi saat ini. Dandanan boleh kuno tetapi tidak donk untuk pola pikir kita. Sepertinya asyik tuh melihat sebuah pendaurulangan sebuah gaya hidup yang juga diakulturasi dengan kebaruan budaya yang ada.

Wwueeeeh………capek ngomong terus….

Udah dulu yah kenapa saya nulis sebanyak ini, padahal materi Tugas Akhir saya banyak banget yang belu diselesaikan…….

!!!!!!!!!!

 

words by self

Pertamakali saya mengungkapkan salah satu isi hati saya ini, banyak orang yang mengernyitkan alisnya ke saya. What the f**k you say! Apalagi ide ini pernah akan menjadi tema sebuah pameran desain (tapi akhirnya gagal total sih karena anggotanya blabalablaababaabjabahaabhaghaglblblblbl……..susah ngomonginnya!). Kata temenku, “jangan sok munafik lo uk! lo kan juga orang yang berhubungan erat sama media, apa nanti malah gak jadi boomerang buat lo. Gimana nanti kalo lo mo nyari kerja?gimana kalo orang media gak percaya sama kita?ato gimana kalo temen-temen kita pada protes karena banyak yang dari kita juga entertainer”. Dan saya hanya menjawab,”kamu ngerasa gak kalo dengan apa yang kamu lakukan kepada masyarakat itu membodohi mereka?dengan desain kamu,nyanyianmu mungkin,performance art kamu dan lain sebagainya yang berhubungan antara kegiatan kamu dan masyarakat. Kalo kamu gak merasa membodohi mereka ya gak usah kawatir, just keep going on your way (inggrise bener gak nih, aku Cuma niru niru dari film film luar lho!). apa gak lebih munafik kalo sebenarnya kita gak seneng sama sebuah program hiburan (di tvlhah, radio ato di panggung sekalipun) kita justru mensukseskannya hanya karena tuntutan profesi, pekerjaan ato alasan yang semacam itu lainnya?” Trus temen laen juga ada yang ngomong , “wah bisa juga tuh pemikiranmu, sebagai orang yang bergerak di dunia yang tak jauh dari dunia hiburan setidaknya kita juga punya sedikit hati untuk menjadi orang baik……”. Dan terjadilah pertempuran argumentasi yang semakin seru…………………………

 

Tadi hanyalah ilustrasi kecil dari sebuah kejadian kecil yang pernah saya alami dahulu kala. Ketika saya masih luthu-luthunya lho……

 

Permasalahnnya adalah mengenai seberapa bagus sih kualitas hiburan yang beredar pada masyarakat luas belakangan ini.melalui media Televisi,Koran,radio ato media massa lainnya. Meskipun sifatnya hanya menghibur, program program hiburan bisa mempengaruhi pola pikir masyarakat lho…

 

(sebelumnya bagi temen-temen yang baca tulisan ini otaknya jangan mendidih dulu, baca dengan sabar dan seksama, kalo marah lekas ucapkan Istighfar ato minta pertolongan Tuhan supaya atinya jadi adem lagi.).Memang, menghibur itu pada dasarnya merupakan sesuatu yang positif. Tapi bagaimana jika sebuah program hiburan di berikan kepada masyarakat dengan kondisi pola pikir yang berbeda? Sbgai contoh seperti apa perkembangan sinetron di Negara ini?eiittt…bukan berarti sinetron kita gak mutu. Masih banyak sinetron kita yang bagus-bagus koq! Dengan banyaknya sinetron ada juga yang kualitasnya yaaaaaaaaa…..gitu deeeh. Trus acara itu mempengaruhi pola pikir atau system kehidupan masyarakat kita gak?kalo iya dan itu berdampak kurang baik ato sedikit negatif mungkin perkataan saya diatas (yang digunakan sebagai judul) mungkin ada benarnya kali ya? Banyak yang mengatakan kalo sebuah program hiburan di buat karena ada permintaan dari msyarakat. Mungkin melalui penelitian,survey lapangan dan sebagainya. Tapi menurut saya itu tidak 100% benar. Pada awalnya mungkin masyarakat membutuhkan hanya sebagai kebutuhan tersier saja(penghilang rasa stress, pengin ketawa ,pengin jogged dsb), tapi lama kelamaan program hiburan itu semakin menjadi saja dan muncul lagi program sejenis pada media yang lain muncul lagi dan muncul lagi sehingga menjadi sebuah makanan harian(karena bangsa kita kayaknya suka meniru, begitu ada sesuatu yang menarik dan lagi rame maka berbondng bondonglhah orang untuk menirunya.).

 

dengan adanya program hiburan dengan jenis yang sama dan di produksi secara massal oleh banyak media,masyarakat justru malah seperti di pakssa untuk menikmati hiburan itu(menurut saya lho!) Iya kalo yang suka, lha kalo yang enggak?…Jumlah banyak dengan kualitas yang sama ,kayaknya juga enggak mungkin deh….

 

Masyarakat mungkin sudah merasa bosan tetapi apa mau dikata wong adanya yang disediain juga hiburan itu, ya nikmati saja……..

 

Tapi tak jarang muncul orang orang dari kumpulan masyarakat yang sedikit kritis melihat fenomena ini dan tentu saja mereka akan membuat kritik pada dunia hiburan.

 

Intinya bahwa kita juga harus jeli dan kritis menerima segala bentuk hiburan yang ada di sekitar kita .

 

Coba stel tv anda lalu nonton program hiburan ato baca majalah hiburan pikir bener-bener, jenis hiburan itu gimana…lalu apakah ada yang aneh dengan pikiran anda, ato anda bosen dengan tayangan yang itu-itu saja?…jika iya mungkin anda akan mengalami pikiran seperti saya, tapi kalo gak dan merasa biasa saja…ya gak apa-apa wong Cuma hiburan koq.

 

Kalo baca tulisan ini samakan saja dengan kita menonton spongebob mungkin dibalik kata kata bodohnya ada makna yang berarti buat kita……..kan Cuma hiburan….

 

Bravo hiburan kita…bravo entertainer Indonesia….

 

Words by self

 

Belum lama ini, saya melihat sebuah pertunjukan musik di sebuah televisi swasta. Bagi saya pertunjukan musik ini kurang biasa. Sebuah pertunjukan musik yang menampilkan beberapa macam aliran musik dan beberapa band. Ada yang dari label mayor, ada juga yang dari label independent. Tidak seperti yang sudah-sudah, ketika televisi hanya menampilkan band-band dari label mayor saja, tetapi ini juga berasal dari indie label. Dan mungkin untuk masyarakat kita secara umum, band-band yang berasal dari label independent belum cukup dikenal. Yah seperti itulah industri musik, atau musik industri? Tetapi pada kenyataanya group band yang berasal dari indie label juga mempunyai “masa” yang cukup banyak lho. Pertunjukan malam itu begitu meriah. Penonton/masa dari band yang didominasi oleh anak muda, berdisko,berjoget dan menari dengan girang, atraktif dengan dandanan serta aksesoris yang menarik.(meski jenis musik yang dimainkan beberapa band berbeda, tetapi penonton tetap menikmati jalannya pertunjukan dengan gembira).

….Sekelumit cerita pendek untuk mengawali cerita panjang saya kali ini.

Perkembangan kebudayaan di Indonesia saat ini sepertinya melukiskan grafik yang cukup menarik. Pengaruh budaya dari luar yang masuk ke Negara kita bisa dikatakan sangat besar. Baik itu dari musik, pendidikan, pola hidup, atau sampai kepada hal yang paling sepele,”gaya bicara”.Tetapi sepertinya kurang diimbangi dengan kemampuan selektifitas bangsa ini. Yaah, contoh kecil adalah cerita saya tadi, jika group band tersebut menjadi faforit, maka semua yang ada pada diri mereka akan diikuti oleh fans mereka. Model rambut, pakaian,kebiasaan hidup dan yang lainnya. Memang, tidak ada hak untuk melarang para fans untuk melakukan semua hal itu. Tetapi kita juga harus melihat kedalam, kita juga punya identitas budaya yang harus tetap dipertahankan. Ataukah ini hanya menjadi sebuah trend? Jika hanya sebuah trend, seperti apa gaya anak muda tahun 2015. Pasti beda donk!

Tidak bisa tidak, sebuah budaya dan pola kehidupan masyarakat pasti akan bergeser seiring dengan berjalannya waktu. Tetapi bukan berarti kehilangan identitas, mungkin itu intinya. Tinggal kita yang menetukan akan dibawa kemana dan seperti apa budaya kita ini.

Bangsa kita memang mempunyai sifat khas yang sulit hilang. Yaitu budaya meniru. Banyak yang menyebutnya “latah”. Walaupun itu adalah hal yang wajar pada sebuah tatanan kehidupan manusia. Seperti ilustrasi diatas, meskipun jenis musik berbeda, penonton tetap menikmati dan berjoget serta berdandan( kebetulan dandanan ini mulai booming pada kaum muda negara ini) yang hanya di miliki secara khas oleh jenis musik tertentu saja, yang pada pertunjukan musik itu hanya satu band yang mengusung genre musik tersebut.

Jadi bangsa kita ini sebenarnya mempunyai sifat budaya latah atau latah budaya? Jika latah budaya mungkin bisa hilang dengan berjalannya waktu, tetapi jika latah menjadi sebuah budaya……..?

 

words by self

 

MEMUSEUMKAN MUSEUM

 

Suatu kali, saya pergi ke sebuah museum wayang diyogyakarta. Museum wayang , didalam museum tersebut terdapat berbagai macam koleksi wayang yang cukup lengkap. Hampir semua jenis wayang dari Indonesia yang mewakili periode zamannya dan juga dari Negara lain terpajang di museum ini. Museum wayang , sebuah dokumentasi proses perkembangan kebudayaan dan teknologi di Indonesia.

Hari itu adalah hari senin dan kali pertama saya datang ke museum ini. Karena saya juga baru mengetahui ternyata di jogja juga ada museum wayang yang leataknya terpisah dari keraton. Maklumlah, tempat museum ini pun lumayan jauh, dipinggiran kota yogyakarta. Sebenarnya hari senin adalah hari libur untuk museum ini. Karena museum ini buka dari hari selasa-minggu. Tetapi beruntung, ada petugas museum yang mau membukanya untuk saya(padahal saya nggak minta lho). Disertai dengan alasan yang membuat saya kurang percaya. Uang kunjungan museum dan parkir bisa buat nambah uang makannya. Bisiknya dengan gerakan isyarat kepada salah seorang teman petugas.fffuih….sangat tragis ( mungkinkah pendapatan mereka sebagai petugas museum kurang mencukupi kebutuhan pokok mereka ?)

Memasuki lorong memanjang dengan balutan arsitektur jawa kuno dan eropa, saya dimanjakan dengan arsip-arsip dua dan tiga dimensi karya seniman – seniman negara ini. Dari zaman dahulu kala hingga zaman modern saat ini. Ya memang lengkap…………

Setelah selesai menikmati koleksi museum ini, otak saya malah diributkan oleh masalah-masalah baru yang timbul gara-gara museum ini.Mengapa museum (yang sebenarnya) sebagus ini, sangat sedikit mendapat perhatian dari masyarakat luas, terutama generasi muda. Kondisi museum sendiri sedikit memprihatinkan. Perawatan dan pemeliharaan bangunan serta koleksi wayang terlihat seadannya. Prosentase pengunjung yang datang ke museumpun sangat sedikit. Lain, jika kita melihat anak muda berada pada sebuah mall, dengan penuh semangat dan antusias menikmati display sebuah produk fashion atau lautan remaja pada sebuah pertunjukan musik. Fenomena yang cukup membuat saya mengernyitkan dua alis ini.

Sudah berapa banyak museum yang di “museumkan”, karena sepi pengunjung, kurang pendapatan atau program museum yang kurang kreatif. Menurut saya ada faktor yang substansial yang menjadikan perhatian masyarakat terhadap fungsi museum ini terabaikan, yaitu kurangnya minat masyarkat untuk mempelajari sejarah dan kekayaan budaya negeri sendiri.(itu disebabkan karena bosan,kuno, nggak gaul atau merasa tidak membutuhkan lagi terhadap kebudayaan, dalam hal ini wayang).

Mungkin 10-20 tahun lagi akan berdiri museum baru yang didalamnya menyimpan berbagai macam daftar jenis museum yang ada di Indonesia. Museum mengoleksi museum. Lambat laun pelan dan kemungkinan pasti bisa-bisa museum wayang ini juga akan dimuseumkan, dan yang lebih menyakitkan lagi yang menjadi stimulasi proses tersebut adalah bangsa kita sendiri.

Ini adalah pekerjaan yang cukup berat untuk museum wayang tersebut dan mungkin pemerintah untuk menanganinya.

Ditulis sebagai bentuk keresahan terhadap kesadaran masyarakat tentang kekayaan budaya bangsa sendiri.

 

words by self

akumelihat hampir semua orang muda
berpakaian seragam.
baju berwarna menyakitkan dan bercelana
stapress.bergerombol dan melakukan
gerakan gerakan atrakitf.rambut cepak
bobs.
tapi apakah mereka juga mengerti
siapakah yang mereka tiru dan
idolakan.dari mana dan kenapa mereka
melakukan.
atau hnya sebuah expresi yang bersifat
temporary

ini adalah gambaran kehidupan masyarkat muda indinesia saat ini.

bagaimana dengan masa datang

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!